Selasa, 30 April 2013

Sekilas Tentang Mutu Beton

Untuk pembangunan gedung dan bangunan infrastruktur kadang diperlukan beton dengan spesifikasi yang ditentukan oleh konsultan perencana struktur, misal mutu beton fc’=30 Mpa. Sedangkan sering kita lihat spesifikasi dalam pricelist supplier beton readymix mutu beton ditulis dengan awalan “K” misalnya mutu beton K-300.

Apakah mutu beton fc’=30 Mpa sama dengan mutu beton K-300?
Tentu tidak sama. Beton dengan fc’=30 Mpa memiliki kuat tekan lebih besar daripada beton K-300. Perbedaan itu terjadi karena terdapat perbedaan benda uji dan satuan ukuran yang digunakan untuk mendapatkan mutu  tersebut. K-300 adalah kuat tekan karakteristik beton 300 kg/cm2 dengan benda uji kubus ukuran 15x15x15 cm. Sedangkan fc’=30 Mpa adalah kuat tekan beton yang disyaratkan 30 Mpa atau 300 kg/cm2 dengan benda uji silinder.

Cara mudah mengkonversi dari fc’ ke K adalah dengan membagi nilai fc’ dengan 0,083. 
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Konversi benda uni kubus ke silinder = 0,83
Konversi satuan Mpa ke kg/cm2 = 10
Jadi mutu beton fc’=30 Mpa setara dengan = 30*10 / 0,83 = 361,45 kg/cm2

Apa yang mempengaruhi mutu beton?
Mutu material beton sangat dipengaruhi oleh komposisi campuran dari material serta kualitas dari masing-masing material pembentuk beton tersebut. Jika semua bahan/material pembentuk beton merupakan material dengan kualitas dan komposisi yang terbaik maka selanjutnya yang mempengaruhi kuat tekan beton adalah kadar airnya.

Beton dengan kadar air yang rendah akan menghasilkan mutu beton yang lebih tinggi namun akan sulit dalam proses pengecorannya (workability rendah), sedangkan beton dengan kadar air yang tinggi akan menghasilkan beton dengan mutu yang lebih rendah, tetapi lebih mudah dalam proses pengecorannya (workability tinggi). 

Tetapi saat ini dengan menggunakan admixture beton maka bisa didapat beton dengan kadar air yang rendah tetapi tetap mudah dalam proses pengecorannya.

Bagaimana kita mengetahui mutu beton yang terpasang pada elemen struktur bangunan?
Ketika kita akan melakukan pengecoran kita mengambil benda uji dari beton readymix yang datang. Benda uji ini yang nantinya akan diuji kuat tekannya di laboratorium (crushing test). Jika hasil crushing test memenuhi syarat maka beton yang terpasang juga diasumsikan memenuhi syarat dan tidak ada masalah.

Bagaimana jika ternyata mutu beton yang terpasang lebih rendah dari mutu yang diinginkan?
Jika ternyata hasil uji test tekan (crushing test) benda uji menghasilkan mutu beton yang lebih rendah dari yang dipersyaratkan. Kita bisa melakukan test lagi dengan beton yang sudah jadi, yaitu dengan melakukan hammer test. Kita melakukan hammer test secara acak untuk setiap elemen struktur bangunan yang sudah jadi.

Jika hasilnya ternyata masih meragukan, maka selanjutnya kita melakukan core drill yaitu mengambil sample beton langsung pada beberapa titik elemen struktur bangunan, kemudian dilakukan test tekan lagi.  Jika ternyata hasil hammer test dan core drill memenuhi syarat maka mutu beton seharusnya sudah oke dan tidak ada masalah.

Nah kalau ternyata hasilnya lebih rendah dari yang dipersyaratkan? Ada dua pilihan yang dapat diambil :
  1. Pertama dengan terpaksa kita bongkar dan kemudian dikerjakan ulang (rework)
  2. Kedua kita analisa lagi kekuatan strukturnya dan kita perkuat dengan beberapa cara antara lain sebagai berikut : Menambah balok dan kolom untuk memperkecil bentangan, kolom dan balok ini bisa dari bahan beton maupun baja atau memperbesar dimensi kolom dan balok, tetapi harus melalui analisa dan perhitungan yang matang karena akan menambah beban struktur dan mengurangi ruang yang harusnya tersedia.

Artikel Terkait Lainnya